when life is started in the dazzling-eyes behind my glasses....

Wednesday, 22 June 2011

Belajar Mendengarkan

Seringkali kita lupa bahwa agar berhasil menciptakan suatu hubungan sosial yang berhasil, langkah awal yang bisa kita lakukan adalah mendengarkan. Bagi saya, menjadi pendengar yang baik merupakan hal yang tidak mudah. Dalam mendengarkan pun ada beberapa hal kecil yang bagi saya penting untuk kita perhatikan. Salah satu hal penting yang perlu kita pertimbangkan adalah menyangkut apa yang hendak kita dengarkan?

SIMAK CERITA BERIKUT INI:
Anda pasti tahu bagaimana rasanya menerima telepon di tengah malam. Tapi, malam itu semuanya terasa berbeda. Aku terlonjak dari tidurku ketika telepon di samping tempat tidur berdering-dering. Aku berusaha melihat jam beker dalam gelap. Cahaya illuminasi dari jam itu menunjukkan tepat tengah malam. Dengan panik aku segera mengangkat gagang telepon.
"Hallo?" dadaku berdegub-degub kencang. Aku memegang gagang telepon itu erat-erat. Kini suamiku terbangun dan menatap wajahku lekat-lekat.
"Mama?" terdengar suara di seberang sana.
Aku masih bisa mendengar bisikannya di tengah-tengah dengung telepon. Pikiranku langsung tertuju pada anak gadisku. Ketika suara itu semakin jelas, aku meraih dan menarik-narik pergelangan tangan suamiku.
"Mama, aku tahu ini sudah larut malam. Tapi jangan... jangan berkata apa-apa dahulu sampai aku selesai bicara. Dan, sebelum mama menanyai aku macam-macam, ya aku mengaku ma. Malam ini aku mabuk. Beberapa hari ini aku lari dari rumah, dan..."
Aku tercekat. Nafasku tersenggal-senggal. Aku lepaskan cengkeraman pada suamiku dan menekan kepalaku keras-keras. Kantuk masih mengaburkan pikiranku. Dan, aku berusaha agar tidak panik. Ada sesuatu yang tidak beres.
"...Dan aku takut sekali. Yang ada dalam pikiranku bagaimana aku telah melukai hati mama. Aku tak mau mati di sini. Aku ingin pulang. Aku tahu tindakanku lari dari rumah adalah salah. Aku tahu mama benar-benar cemas dan sedih. Sebenarnya aku bermaksud menelepon mama beberapa hari yang lalu, tapi aku takut... takut..."
Ia menangis tersedan-sedan. Sengguknya benar-benar membuat hatiku iba. Terbayang aku akan wajah anak gadisku. Pikiranku mulai jernih, "Begini..."
"Jangan ma, jangan bicara apa-apa. Biarkan aku selesai bicara." ia meminta. Ia tampak putus asa.
Aku menahan diri dan berpikir apa yang harus aku katakan. Sebelum aku menemukan kata-kata yang tepat, ia melanjutkan, "Aku hamil ma. Aku tahu tak semestinya aku mabuk sekarang,tapi aku takut. Aku sungguh-sungguh takut!"
Tangis itu memecah lagi. Aku menggigit bibirku dan merasakan pelupuk mataku mulai basah. Aku melihat pada suamiku yang bertanya perlahan, "Siapa itu?"
Aku menggeleng-gelengkan kepala. Dan ketika aku tidak menjawab pertanyaannya, ia meloncat meninggalkan kamar dan segera kembali sambil membawa telepon portable. Ia mengangkat telepon portable yang tersambung pararel dengan teleponku. Terdengar bunyi klik.
Lalu suara tangis suara di seberang sana terhenti dan bertanya, "Mama, apakah mama masih ada di sana? Jangan tutup teleponnya ma. Aku benar-benar membutuhkan mama sekarang. Aku merasa kesepian."
Aku menggenggam erat gagang telepon dan menatap suamiku, meminta pertimbangannya. "Mama masih ada di sini. Mama tidak akan menutup telepon," kataku.
"Semestinya aku sudah bilang pada mama. Tapi bila kita bicara, mama hanya menyuruhku mendengarkan nasehat mama. Selama ini mamalah yang selalu berbicara. Sebenarnya aku ingin bicara pada mama, tetapi mama tak mau mendengarkan. Mama tak pernah mau mendengarkan perasaanku. Mungkin mama anggap perasaanku tidaklah penting. Atau mungkin mama pikir mama punya semua jawaban atas persoalanku. Tapi terkadang aku tak membutuhkan nasehat mama. Aku hanya ingin mama mau mendengarkan aku."
Aku menelan ludahku yang tercekat di kerongkongan. Pandanganku tertuju pada pamflet "Bagaimana Berbicara Pada Anak Anda" yang tergeletak di sisi tempat tidurku.
"Mama mendengarkanmu," aku berbisik.
"Tahukah mama, sekarang aku mulai cemas memikirkan bayi yang ada di perutku dan bagaimana aku bisa merawatnya. Aku ingin pulang. Aku sudah panggil taxi. Aku mau pulang sekarang."
"Itu baik sayang," kataku sambil menghembuskan nafas yang meringankan dadaku. Suamiku duduk mendekat padaku. Ia meremas jemariku dengan jemarinya.
"Tapi ma, sebenarnya aku bermaksud pulang dengan menyetir sendiri mobil sendiri."
"Jangan," cegahku. Ototku mengencang dan aku mengeratkan genggaman tangan suamiku. "Jangan. Tunggu sampai taxinya datang. Jangan tutup telepon ini sampai taxi itu datang."
"Aku hanya ingin pulang ke rumah, mama."
"Mama tahu. Tapi, tunggulah sampai taxi datang. Lakukan itu untuk mamamu."
Lalu aku mendengar senyap di sana. Ketika aku tak mendengar suaranya, aku gigit bibir dan memejamkan mata. Bagaimana pun aku harus mencegahnya mengemudikan mobil itu sendiri.
"Nah, itu taxinya datang."
Lalu aku dengar suara taxi berderum di sana. Hatiku terasa lega.
"Aku pulang ma," katanya untuk terakhir kali. Lalu ia tutup telepon itu. Air mata meleleh dari mataku. Aku berjalan keluar menuju kamar anak gadisku yang berusia 16 tahun. Suamiku menyusul dan memelukku dari belakang. Dagunya ditaruh di atas kepalaku.
Aku menghapus airmata dari pipiku. "Kita harus belajar mendengarkan," kataku pada suamiku.
Ia terdiam sejenak, dan bertanya, "Kau pikir, apakah gadis itu sadar kalau ia telah menelepon nomor yang salah?"
Aku melihat gadisku sedang tertidur nyenyak. Aku berkata pada suamiku, "Mungkin itu tadi bukan nomor yang salah."
"Ma? Pa? Apa yang terjadi?," terdengar gadisku menggeliat dari balik selimutnya.
Aku mendekati gadisku yang kini terduduk dalam gelap, "Kami baru saja belajar," jawabku.
"Belajar apa?" tanyanya. Lalu ia kembali berbaring dan matanya terpejam lagi.
"Mendengarkan," bisikku sambil mengusap pipinya. 

 ITULAH CERITANYA




Mendengar berarti berusaha mendengarkan sambil menempatkan diri di posisi orang yang menyampaikan informasi. Hal ini cukup sulit, berhubung individu-individu terlahir dengan begitu banyak keunikan, latar belakang, dan kemudian nilai-nilai yang berbeda, rasanya sangat sulit untuk betul-betul menempatkan diri di posisi orang lain. Tanpa kita sadari, yang kita lakukan adalah memilah-milah informasi mana yang kita dapatkan dari sumber yang paling sesuai dengan nilai-nilai yang kita pegang, atau yang paling serupa dan dekat dengan latar belakang kita masing-masing. Kita memilih mana yang mau kita dengar, mana yang mau kita buang. Kita tidak betul-betul mendengar dan menyimak apa yang disampaikan oleh orang yang sedang bicara dengan kita. Kita tidak berusaha untuk mengerti lebih jauh apa yang melandasi hal-hal yang disampaikan oleh teman bicara kita, sehingga ia sampai merasa harus menyampaikannya kepada kita. Respon seperti apa yang ia butuhkan, dukungan seperti apa yang ia cari, saran seperti apa yang ia minta.

Seringkali saya terpancing untuk menanggapi cerita teman saya dengan apa yang menurut saya baik,  bukan apa yang baik untuk dia. Seolah-olah saya yang paling tahu segalanya. Saya tidak tahu bagaimana dengan teman-teman yang lain yang membaca tulisan ini, tapi saya akhir-akhir ini merasa sulit sekali dalam betul-betul mendengarkan apa yang orang coba sampaikan pada saya. Oleh karena itulah saya ingin belajar untuk mendengarkan, jauh lebih ingin daripada saya ingin belajar untuk berbicara, karena saya tahu itu adalah hal yang paling saya butuhkan sebagai seorang calon psikolog, secara khusus, juga sebagai teman yang baik, secara umum.



-some sources-

No comments:

Post a Comment